Pemuda Indonesia Timur Sampaikan Surat Terbuka untuk Amien Rais, Soroti Sang Tokoh yang Kehilangan Arah
Amien Rais dan Teddy Indra Wijaya | Dok. istimewa
Sofifipost, Jakarta | Sejumlah pemuda yang mengatasnamakan diri sebagai Pemuda Indonesia Timur menyampaikan surat terbuka untuk Amien Rais pada Sabtu (2/5/2026).
Surat tersebut berisi kritikan terhadap pernyataan Amien Rais yang dinilai memperluas ruang polemik dan tidak produktif. Dalam surat itu, Pemuda Indonesia Timur menyoroti berbagai pernyataan Amien Rais belakangan ini dengan rasa prihatin.
“Kami melihat pola lama yang terus berulang: ketika realitas tak lagi sejalan dengan ekspektasi, yang diserang bukan datanya, melainkan orangnya. Kritik yang seharusnya menjadi alat koreksi, justru berubah menjadi retorika yang kehilangan arah,” tulis Koordinator Pemuda Indonesia Timur, Dobertus Doongoro.
Pemuda Indonesia Timur menegaskan bahwa pernyataan Amien Rais terasa lebih seperti gema masa lalu ketimbang pembacaan jernih atas situasi hari ini. Alih-alih menawarkan solusi konkret atau analisis berbasis data, yang muncul justru nada insinuatif yang berpotensi menggiring publik pada politik kecurigaan, bukan politik gagasan.
“Kami juga menyoroti pernyataan-pernyataan yang menyentuh ranah personal dan tidak relevan dengan substansi kebijakan,” ungkap Dobertus.
Menurut mereka, pendekatan seperti ini bukan hanya mengaburkan fokus diskusi publik, tetapi juga berisiko menurunkan kualitas demokrasi kita. Ruang publik seharusnya diisi oleh adu gagasan, bukan penilaian personal yang tidak berdasar.
“Dalam demokrasi yang sehat, kritik bukan soal siapa yang paling keras bersuara, melainkan siapa yang paling jernih membaca persoalan,” tulis Dobertus.
Di akhir surat, mereka menyuarakan ketika kritik kehilangan basis rasional dan lebih condong pada spekulasi atau serangan personal, yang terjadi bukan pencerahan melainkan kebisingan yang memecah belah.
“Kami berharap bapak, sebagai tokoh publik yang pernah memberi kontribusi besar bagi demokrasi Indonesia, dapat kembali menghadirkan kritik yang berbasis data, beretika, dan berorientasi pada solusi, bukan memperluas ruang polemik yang tidak produktif,” demikian isi pernyataan tersebut. **





Tinggalkan Balasan