SofifiPost.ID

Informasi Tanpa Batas

Sabtu, 24 Oktober 2026

Tekad Halbar Gandeng Demplot Saria, Sulap Cakalang Jadi Pentolan

Sofifi Post Redaksi

Program Transformasi Ekonomi Kampung Terpadu (Tekad) | Dok. istimewa

Sofifipost, Halbar | Program Transformasi Ekonomi Kampung Terpadu (Tekad) Kabupaten Halmahera Barat, Maluku Utara, terus mendorong masyarakat desa mengembangkan potensi ekonomi lokal melalui pengolahan hasil perikanan.

Salah satunya dilakukan di Desa Saria, Kecamatan Jailolo, melalui pelatihan teknis pembuatan pentolan dan abon ikan cakalang yang diikuti sebanyak 20 peserta dari kelompok Demplot Desa Saria, Kamis (8/10/2026).

Fasilitator Kabupaten Tekad Halmahera Barat, Anton Ilyas, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya meningkatkan keterampilan masyarakat dalam mengolah hasil perikanan menjadi produk bernilai ekonomi lebih tinggi.

“Hari ini melalui Program Tekad Kabupaten Halmahera Barat, kami melakukan pelatihan teknis pembuatan pentolan ikan cakalang di Desa Saria. Selain pentolan, kami juga melakukan pelatihan pembuatan abon ikan cakalang,” ujarnya.

Menurutnya, pelatihan menghadirkan tenaga profesional dan praktisi, Nurjana, sebagai pemateri agar masyarakat mendapatkan pengetahuan langsung mengenai proses pengolahan hingga pengembangan produk.

Anton menjelaskan, sebanyak 20 peserta yang mengikuti pelatihan merupakan perwakilan kelompok Demplot yang telah diusulkan oleh Pemerintah Desa Saria.

Ia menyebutkan, pengembangan produk olahan ikan di Desa Saria masih memiliki peluang yang sangat besar. Pasalnya, desa tersebut dikenal sebagai salah satu wilayah penghasil ikan di Halmahera Barat, khususnya ikan tuna, cakalang dan berbagai jenis ikan lainnya.

“Kami sangat berharap pemerintah desa maupun kelompok dapat meningkatkan jumlah produksi pentolan dan abon ikan. Bahan bakunya tersedia cukup banyak karena Desa Saria merupakan salah satu desa penghasil ikan,” katanya.

Anton berharap pengembangan Demplot Desa Saria yang dibina bersama pemerintah desa dapat terus mendapat dukungan dari pemerintah daerah, pemerintah provinsi hingga pemerintah pusat.

Menurutnya, dukungan tersebut penting agar produk olahan masyarakat tidak hanya berhenti pada tahap produksi, tetapi dapat ditingkatkan kualitasnya hingga mampu menembus pasar lokal maupun nasional.

“Kalau produk ini bisa masuk ke pasar nasional maupun pasar lokal yang memenuhi standar, tentu akan membantu meningkatkan pendapatan ekonomi desa dan masyarakat Desa Saria,” jelasnya.

Anton menambahkan, pelatihan teknis Program Tekad dilaksanakan di masing-masing desa selama tiga hari. Para peserta mendapatkan materi langsung dari praktisi dan pelaku usaha sesuai dengan kebutuhan serta potensi Demplot di masing-masing desa.

Pada tahun 2026, kata Anton, pelatihan teknis di bawah Program Tekad Halmahera Barat dilaksanakan di sekitar 10 desa yang tersebar di sejumlah kecamatan, di antaranya Kecamatan Jailolo, Ibu Selatan, Ibu dan Ibu Utara.

“Item kegiatannya sama, tetapi jenis pelatihannya berbeda sesuai dengan kebutuhan desa dan Demplot yang diusulkan,” ujarnya.

Anton mengaku melihat antusiasme masyarakat Desa Saria dalam mengikuti pelatihan tersebut cukup tinggi. Masyarakat, kata dia, mulai melihat bahwa ikan tidak hanya dijual dalam bentuk mentah, tetapi dapat diolah menjadi berbagai produk turunan bernilai ekonomi.

“Semua masyarakat berbondong-bondong datang untuk belajar. Dulu orang hanya mengenal ikan dijual begitu saja, sekarang mereka mulai mengetahui bahwa ikan bisa dibuat menjadi pentolan, abon dan produk lainnya,” katanya.

Ia berharap antusiasme tersebut dapat menjadi awal bagi terbentuknya usaha produktif masyarakat sekaligus meningkatkan pendapatan ekonomi desa.

Sementara itu, Kepala Desa Saria, Atman Hasan, mengatakan pelatihan dan pengembangan usaha kreatif yang dilakukan Program Tekad Halmahera Barat sangat membantu kelompok masyarakat yang bergerak di bidang pengolahan ikan.

Menurut Atman, pengembangan usaha tidak hanya diarahkan pada produksi abon ikan, tetapi juga berbagai produk olahan lainnya, termasuk pentolan ikan cakalang.

“Selain pengolahan ikan menjadi abon, ada juga pengembangan usaha lain, termasuk mengolah ikan menjadi pentolan. Jadi, pengembangan produk tidak hanya terfokus pada satu jenis usaha, tetapi ada beberapa jenis usaha kreatif yang bisa dikembangkan masyarakat,” ungkapnya.

Atman berharap kelompok penerima manfaat dapat mengikuti pelatihan secara serius sehingga mampu memahami proses produksi, pengembangan usaha dan pemasaran secara lebih mendalam.

“Kami berharap kepada kelompok agar lebih fokus dan mendapatkan pemahaman yang mendalam terkait pengembangan usaha tersebut,” harapnya.

Ia juga meminta seluruh koordinator Program Tekad untuk terus melakukan monitoring terhadap pelaksanaan program di desa. Dengan pendampingan yang berkelanjutan, kelompok usaha diharapkan tidak hanya mendapatkan pelatihan, tetapi mampu mengembangkan usaha hingga menghasilkan pendapatan bagi masyarakat.

“Monitoring harus terus dilakukan agar kelompok usaha mendapatkan pendampingan dan pemahaman yang berkelanjutan,” pungkasnya. **

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Tutup