Demplot Padi Sawah Taboso: Menghidupkan Lahan Tidur, Menumbuhkan Harapan
Budidaya padi sawah di Desa Taboso, Kecamatan Jailolo, Kabupaten Halmahera Barat | Dok. istimewa
Sofifipost, Halbar | Upaya mengembangkan budidaya padi sawah di Desa Taboso, Kecamatan Jailolo, Kabupaten Halmahera Barat, berawal dari pengamatan terhadap berbagai komoditas pertanian yang dikembangkan masyarakat setempat.
Dari empat petani yang aktif menanam padi hingga melibatkan 14 petani dalam demplot, Desa Taboso mulai membuka kembali lahan tidur dan mengembangkan budidaya padi sawah
Rivaldi Ano, Kader Desa Program TEKAD (KD-TEKAD) di Desa Taboso, menceritakan bahwa pada awal kegiatan, ia bersama pemerintah desa melihat berbagai komoditas yang dibudidayakan petani. Mereka mengunjungi petani untuk mengetahui potensi pertanian yang ada di desa, bukan hanya padi sawah, tetapi juga komoditas lainnya.
Dari pengamatan tersebut, padi sawah menjadi pilihan untuk dikembangkan melalui demplot. Beras merupakan salah satu kebutuhan pokok masyarakat, sementara desa masih memiliki lahan yang belum dimanfaatkan secara optimal.
Lahan-lahan yang selama ini dibiarkan tidur diharapkan dapat kembali produktif melalui budidaya padi sawah.
Pada awalnya, hanya sekitar empat orang petani yang aktif menanam padi sawah. Rivaldi bersama petani lainnya kemudian berupaya mengajak warga yang sebelumnya pernah menanam padi dan memiliki lahan, tetapi belum memanfaatkannya kembali.
Upaya itu membuahkan hasil. Sekitar 14 petani bersedia terlibat dalam kelompok demplot padi sawah TEKAD.
Sebulan Membuka Lahan
Setelah memperoleh dana demplot, para petani mulai bekerja bersama membuka lahan seluas lebih dari satu hektare.
Pekerjaan tersebut tidak sekadar membersihkan lahan yang sudah siap ditanami. Mereka harus membuka lahan dengan menebang dan membersihkan kayu-kayu besar serta rumput yang tumbuh di area tersebut.
Proses pembersihan lahan berlangsung sekitar satu bulan sebelum penanaman dimulai. Setelah lahan siap, para petani mulai menanam padi sawah. Dalam proses budidaya, mereka menghadapi kendala berupa serangan hama yang kerap mengganggu tanaman.
Namun, ketersediaan dana demplot membantu petani menyiapkan obat-obatan untuk menangani serangan hama tersebut. Dari penanaman hingga panen, waktu yang dibutuhkan kurang lebih 84 hari.
Menghasilkan 3,8 Ton Gabah
Panen pertama demplot padi sawah Taboso menghasilkan sekitar 3.800 kilogram atau 3,8 ton gabah. Setelah melalui proses penggilingan, hasilnya mencapai 2.215 kilogram beras.
Setelah panen, para petani mulai memikirkan tempat untuk menjual hasil produksi mereka. Rivaldi kemudian melakukan pendekatan dengan BUMDes agar beras hasil demplot dapat dipasarkan melalui badan usaha milik desa tersebut.
Dari hasil pendekatan itu, BUMDes membeli sebanyak 2.050 kilogram beras. Sementara itu, 165 kilogram beras lainnya digunakan untuk memenuhi kesepakatan pembayaran jasa mesin panen dan penggilingan serta pembagian kepada petani nonkelompok.
Dalam penggunaan mesin tersebut, pembayaran jasa dilakukan menggunakan beras sesuai kesepakatan antara petani dan penyedia jasa.
Dengan demikian, hasil demplot tidak hanya menghasilkan gabah dan beras, tetapi juga membuka jalur pemasaran melalui BUMDes serta memenuhi kesepakatan kerja sama yang diperlukan dalam proses panen dan pengolahan hasil.
Penanaman Kedua dan Perluasan Lahan
Setelah panen pertama, para petani melanjutkan penanaman berikutnya. Luas lahan demplot yang sebelumnya lebih dari satu hektare kini diperluas menjadi sekitar 1,5 hektare.
Menurut keterangan Rivaldi, kegiatan demplot tersebut telah memasuki penanaman kedua, tetapi baru mengalami satu kali panen.
Selain mengelola lahan demplot bersama, para petani juga memiliki lahan mandiri yang mereka tanami. Ukuran lahan mandiri yang disebutkan dalam keterangannya sekitar 50 × 50 meter untuk setiap petani.
Perkembangan ini menjadi bagian dari upaya memperluas budidaya padi sawah di Desa Taboso. Petani yang sebelumnya tidak aktif mulai kembali menggarap lahan, sementara lahan-lahan yang lama tidak dimanfaatkan perlahan kembali menjadi ruang produksi pertanian.
Bagi Rivaldi dan para petani yang terlibat, bertambahnya jumlah petani dan mulai digarapnya lahan tidur merupakan perkembangan yang dirasakan dari kegiatan demplot.
Ketika Lahan Kembali Memberi Kehidupan
Demplot padi sawah di Desa Taboso memperlihatkan perjalanan yang dimulai dari pengamatan terhadap potensi desa, pemilihan komoditas, pembukaan lahan, penanaman, hingga pemasaran hasil panen. Di dalam proses itu, petani bekerja bersama, menghadapi kendala budidaya, dan berupaya memastikan hasil panen memiliki jalur pemasaran.
Perjalanan tersebut belum selesai. Penanaman kedua masih berlangsung, sementara perluasan lahan menjadi sekitar 1,5 hektare membuka ruang bagi kelanjutan budidaya padi sawah di desa itu.
Di balik angka 3,8 ton gabah dan 2.215 kilogram beras, ada kerja para petani yang membersihkan lahan selama sebulan, menanam, merawat tanaman, menghadapi serangan hama, dan menunggu waktu panen. Ada pula upaya menghubungkan hasil kerja mereka dengan BUMDes agar beras yang dihasilkan dapat dipasarkan.
Sebab, tanah yang lama terdiam tidak selamanya harus menjadi tanah yang dilupakan. Ketika tangan-tangan petani kembali menyentuhnya, ketika benih ditanam dengan harapan dan dirawat dengan ketekunan, lahan itu perlahan menemukan kembali arti kehidupannya.
Di Taboso, padi bukan sekadar tanaman yang tumbuh di antara lumpur dan air. Ia menjadi tanda bahwa harapan dapat berakar di tanah sendiri; bahwa dari lahan yang pernah tidur, masyarakat desa dapat mulai menumbuhkan pangan, menghidupkan kembali kerja bersama, dan merintis masa depan yang lebih mandiri.
Sebab, selama tanah masih dapat ditanami dan petani masih bersedia menabur benih, harapan akan selalu menemukan jalan untuk tumbuh. **





Tinggalkan Balasan