Setitik Harapan Dari Minahasa Utara: BUM Desa Sinar Usaha Budo dan Ikhtiar Membangun Desa Wisata
Oleh
AhmadRabo Lutfianona, dikembangkan dan disunting oleh Rudi Amir
_____ Bisa jadi, saya dan beberapa teman adalah tim pertama Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi yang berkunjung ke Desa Budo, Kabupaten Minahasa Utara. Ketidaktahuan tentang Desa Budo membuat kami harus membuka Google untuk meyakinkan diri bahwa desa ini layak dikunjungi sebagai lokasi studi tiru, studi lapangan, atau apa pun namanya bagi pemerintah desa maupun BUM Desa dari daerah lain, terutama di Indonesia Timur.
Rekomendasi lokasi menjadi taruhan kredibilitas kami sebagai tim Kemendesa PDT dan Transmigrasi yang dianggap paling mengetahui tempat-tempat yang dapat menjadi contoh praktik baik pemerintah desa dan BUM Desa dalam mengelola potensi wilayahnya.
Budo bagi kami adalah nama yang asing, jauh dari hiruk-pikuk praktik baik dan prestasi pembangunan desa, apalagi desa yang berada di wilayah timur Indonesia. Salah satu alasan keraguan itu adalah kenyataan bahwa sejak Undang-Undang Desa diberlakukan, banyak desa yang berkembang pesat berada di Pulau Jawa.
Sebagai contoh, Desa Pujon Kidul, Kabupaten Malang, yang menerima penyertaan modal desa sebesar Rp150 juta untuk BUM Desa pada 2015. Ketika dikunjungi dalam kegiatan Best Practice pada triwulan III 2018, omzet BUM Desa tersebut telah mencapai Rp850 juta. Menurut kepala desa saat itu, “Kuncinya hanya satu, partisipasi masyarakat.”
Pemerintah Desa Budo
Perjuangan Budo untuk menjadi desa sendiri, terpisah dari Desa Darunu, dilakukan sejak 1965 dan dimotori oleh Yohanis Pinamangung. Perjuangan itu mengantarkannya menjadi Hukum Tua pertama Desa Budo.
Saat ini, Desa Budo dipimpin oleh Hukum Tua Lisbet Lintogareng. Di bawah kepemimpinannya, Budo mulai berbenah dan berkembang menjadi desa yang sebelumnya tidak banyak dikenal, hingga menjadi salah satu desa yang diperhitungkan di Indonesia.
Tidak hanya menata pemerintahan, Lisbet Lintogareng juga mendorong partisipasi masyarakat untuk menjadikan Budo sebagai desa wisata dengan memanfaatkan potensi yang dimiliki.
Untuk mencapai tujuan tersebut, Hukum Tua perempuan pertama di Desa Budo itu menggandeng mantan Hukum Tua, Hani Lorens Singa, sebagai Direktur BUM Desa Sinar Usaha Budo. Praktik semacam ini jarang dijumpai: seorang kepala desa menjadikan mantan kepala desa sebagai mitra dalam membangun desa.
Kisah Budo mengingatkan pada Desa Tamansari, Kabupaten Banyuwangi. Kepala desa di sana menjadikan lawannya dalam pemilihan kepala desa sebagai mitra dalam mengelola BUM Desa Ijen Lestari Tamansari. Kolaborasi tersebut membawa Tamansari meraih predikat Desa Terbaik Pertama dalam Anugerah Desa Wisata Indonesia tahun 2022.
Kembali ke Desa Budo, sejak berdiri pada 1965, desa ini disebut telah dipimpin oleh sembilan Hukum Tua. Nama-nama yang tercatat dalam catatan perjalanan ini adalah Yohanis Pinamangung, Aser Kagiling, Erens Pianaung, Welly Taidi, Wem Kagiling, Zet Lintogareng, Bertji Salindeho, dan Hani Lorens Singa.
Menurut cerita masyarakat setempat, sebelum menjadi desa, wilayah Budo merupakan kawasan hutan. Kehidupan bermula ketika sepasang suami istri dari Desa Kaili datang dan menetap di kawasan tersebut. Anak perempuan mereka memiliki paras cantik dan kulit putih, lalu diberi nama Budo. Sejak itu, kawasan tersebut dikenal dengan nama Budo.
Seiring waktu, keluarga yang berasal dari Kaili itu meninggalkan kawasan tersebut. Setelah kepergian mereka, masyarakat Desa Darunu memanfaatkan wilayah itu sebagai lahan perkebunan. Kawasan perkebunan kemudian berkembang menjadi perkampungan atau dusun bernama Dusun Budo.
Dusun tersebut umumnya dihuni masyarakat dari Desa Darunu dan mulai berkembang serta mandiri sekitar 1950.
Potensi dan Produk Wisata
Desa Budo memiliki kawasan hutan mangrove seluas sekitar 30 hektare, pemandangan laut yang indah, dermaga wisata mangrove, serta keindahan alam bawah laut. Desa ini juga memiliki kesenian tradisional, seperti masamper dan patopato, serta tradisi Budo Tutup Tahun atau Tulude yang biasanya dilaksanakan pada awal tahun.
Untuk menunjang kunjungan wisatawan, Budo menyediakan homestay dengan memanfaatkan rumah warga yang dilengkapi fasilitas untuk memenuhi kebutuhan dan kenyamanan tamu.
Keunikan lain Desa Budo adalah suvenir berbahan dasar rumput liar yang tumbuh di lahan perkebunan kelapa. Dalam bahasa lokal, bahan tersebut dikenal sebagai gito. Masyarakat mengolahnya menjadi berbagai kerajinan, seperti keranjang sampah, gantungan kunci, tempat air minum, tatakan piring, ikat rambut, jepit rambut, dan produk lainnya.
Kuliner khas Budo disiapkan oleh masyarakat setempat secara bergiliran sesuai jadwal. Hidangan yang disajikan antara lain bubur Manado, pisang goreng, ikan bakar, serta sampehu sebagai salah satu kuliner khas desa.
Keindahan alam Budo juga kerap dibandingkan dengan Bunaken. Desa ini memiliki bentang alam bawah laut dengan topografi dinding, sementara dari kawasan perbukitannya, pengunjung dapat menikmati pemandangan Gunung Dapi-Dapi serta panorama matahari terbit dan terbenam.
Tidak mengherankan jika Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif saat itu, Sandiaga Salahuddin Uno, mengunjungi Desa Budo pada 2022. Desa ini berhasil masuk dalam 50 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI).
BUM Desa sebagai Pengelola Desa Wisata
Di tangan Hani Lorens Singa, Desa Budo yang sebelumnya jauh dari perhatian dan bayangan masyarakat Sulawesi Utara berkembang menjadi magnet wisata baru di kawasan Manado dan Minahasa Utara.
Letaknya yang strategis membuat Desa Budo mudah dikunjungi, baik dari ibu kota kabupaten maupun ibu kota Provinsi Sulawesi Utara. Dari Kota Manado, perjalanan menuju Budo memerlukan waktu sekitar 15 menit dengan jarak kurang lebih 21 kilometer. Sementara itu, jarak Desa Budo ke ibu kota Kabupaten Minahasa Utara sekitar 30 kilometer.
Desa ini memiliki luas wilayah kurang lebih 423 hektare, dengan sekitar 402 hektare berupa lahan pertanian dan perkebunan. Selebihnya merupakan kawasan hutan bakau dan permukiman penduduk.
Keunggulan wilayah dan potensi tersebut mendorong pemerintah desa bersama BUM Desa merencanakan pengembangan Budo sebagai desa wisata. Pemerintah desa kemudian mengalokasikan anggaran melalui APB Desa yang bersumber dari Dana Desa pada 2018, 2019, dan 2020 untuk membangun infrastruktur wisata di kawasan mangrove.
Selain dukungan pemerintah desa, BUM Desa, dan masyarakat, pengembangan serta pemberdayaan masyarakat juga didampingi oleh Politeknik Negeri Manado (Polimdo) dan International Labour Organization (ILO), atau Organisasi Buruh Internasional.
Keduanya bekerja sama memberdayakan masyarakat pesisir dalam mengembangkan ekonomi lokal. Keberhasilan tersebut membuat Polimdo dan ILO memperkenalkan praktik pengembangan ekonomi masyarakat pesisir di Desa Wisata Budo, Kabupaten Minahasa Utara, ke tingkat internasional.
Mengutip informasi dari Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, keberhasilan Desa Wisata Budo menarik perhatian perwakilan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), termasuk Direktur Pusat Informasi PBB di Jakarta, Miklos Gaspar, dan Kepala Perwakilan PBB di Indonesia.
Dalam catatan perjalanan ini disebutkan bahwa Gaspar mengunjungi Desa Budo pada Juli dan sekitar awal November 2022. Ia mengungkapkan bahwa kunjungan pertamanya dilandasi rasa penasaran terhadap penjelasan Mary Kent mengenai keberhasilan program kerja sama ILO dan Polimdo, khususnya dalam pengembangan ekonomi masyarakat pesisir di Sulawesi Utara.
Desa wisata ini pernah mencatat jumlah kunjungan hingga 1.500 orang dalam satu hari. Salah satu kunci keberhasilan pemberdayaan masyarakat adalah kemampuan warga Budo menerapkan modul-modul pelatihan berstandar ILO.
Gaspar berharap masyarakat Budo dapat membagikan pengalaman dan keberhasilan tersebut kepada masyarakat desa tetangga maupun desa pesisir lainnya.
Irfan Afandi, National Project Officer ILO yang ditempatkan untuk bekerja bersama Polimdo, menyebut Budo telah menjadi bagian penting dalam perhatian PBB. Sebelum kedatangan Miklos Gaspar, keberhasilan Budo telah menjadi informasi mengenai hasil proyek-proyek PBB di Indonesia dan dibahas dalam berbagai pertemuan berskala global.
Mary Kent, yang dalam catatan perjalanan ini disebut sebagai Chief Technical Advisor UK Prosperity Program Indonesia–ILO, dikenal dekat dengan masyarakat Budo. Ia kerap datang dan membawa tamu-tamu penting, sehingga kehadirannya dianggap sebagai bagian dari keluarga besar masyarakat setempat.
Catatan perjalanan tersebut juga menyebutkan komitmen kerja sama ILO dan Pelindo dalam mendukung pembangunan Desa Budo sebagai desa binaan. Nama lembaga dan bentuk kerja sama ini perlu disesuaikan dengan sumber resmi sebelum publikasi.
Peraih ADWI Tahun 2022
Pagi itu, 30 kepala desa dari Kabupaten Pulau Morotai mengunjungi Desa Wisata Budo. Kunjungan tersebut seakan menjadi antitesis terhadap keraguan kami mengenai perkembangan desa-desa di Indonesia Timur selama lima tahun terakhir.
Rasa percaya diri untuk bangkit dan mengelola potensi desa mulai tumbuh di antara para kepala desa yang berkunjung. Pengalaman Budo memperlihatkan bagaimana sebuah desa dapat berkembang melalui pemanfaatan potensi lokal dan kolaborasi antarpihak.
Kerja keras Hukum Tua Lisbet Lintogareng dan Direktur BUM Desa Sinar Usaha Budo, Hani Lorens Singa, membawa Desa Budo masuk dalam 50 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia kategori Digital Kreatif tahun 2022.
Sebagai bagian dari tradisi menerima tamu, pemerintah Desa Budo juga mengajak para pengunjung menanam mangrove pada setiap kunjungan. Kegiatan ini tidak hanya mempererat hubungan antardesa, tetapi juga memperkenalkan pentingnya menjaga lingkungan pesisir.
Pada 2024, melalui program Desa Sejahtera Astra (DSA), Desa Budo mendapatkan dukungan sebagai desa wisata penyangga Destinasi Super Prioritas Likupang yang berada di Kecamatan Wori, Kabupaten Minahasa Utara, Sulawesi Utara.
Bagi Astra, Budo telah menunjukkan kapasitas sebagai teladan bagi desa-desa lain di Indonesia melalui keberhasilannya masuk dalam 50 besar ADWI 2022 kategori Digital Kreatif. Melalui program Desa Sejahtera Astra, dukungan diberikan untuk mempertahankan dan mengembangkan potensi yang dimiliki desa.
Budo bukan hanya berkembang sebagai desa wisata, tetapi juga menjadi tujuan kegiatan pengabdian masyarakat bagi mahasiswa dan lokasi penelitian.
Kerja keras dan dukungan masyarakat menunjukkan bahwa tidak ada yang mustahil. Desa berprestasi bukan hanya berada di Pulau Jawa. Budo membawa pesan kepada desa-desa di Indonesia Timur bahwa potensi lokal dapat menjadi kekuatan untuk bangkit dan menghadirkan dampak ekonomi bagi masyarakat.
Kolaborasi antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, masyarakat, dan berbagai pihak lainnya dapat membangkitkan gairah ekonomi desa, baik pada masa kini maupun masa depan.
Epilog: Setitik Harapan dari Timur
Kisah Desa Budo mengajarkan bahwa kemajuan tidak selalu bermula dari gedung-gedung tinggi, jalan-jalan lebar, atau pusat-pusat ekonomi yang ramai. Terkadang, kemajuan justru tumbuh dari sebuah desa kecil, dari tangan masyarakat yang tekun bekerja, dari pemimpin yang bersedia merangkul, dan dari keberanian untuk melihat potensi yang selama ini tersembunyi.
Mangrove yang tumbuh di pesisir Budo bukan sekadar barisan pohon yang menahan abrasi. Ia menjadi lambang ketekunan: tumbuh perlahan, berakar kuat, dan menjaga kehidupan di sekitarnya. Begitu pula pembangunan desa. Ia tidak cukup dibangun melalui anggaran dan program, tetapi memerlukan kepercayaan, partisipasi, dan kesediaan untuk berjalan bersama.
Bagi desa-desa di Indonesia Timur, Budo menyampaikan pesan bahwa jarak dari pusat kekuasaan bukanlah alasan untuk terus tertinggal. Laut, hutan, kebun, tradisi, dan pengetahuan masyarakat bukanlah kekurangan yang harus disembunyikan. Semuanya adalah modal yang dapat diolah menjadi kesejahteraan, selama pembangunan tidak tercerabut dari kehidupan warga yang menjadi pemiliknya.
Namun, keberhasilan desa tidak semestinya hanya diukur dari banyaknya wisatawan, penghargaan, atau nama yang dikenal hingga ke mancanegara. Ukuran yang paling mendasar adalah apakah masyarakatnya memperoleh manfaat, apakah lingkungan tetap terjaga, apakah usaha lokal tumbuh, dan apakah generasi berikutnya masih memiliki ruang untuk hidup dengan bermartabat.
Di situlah arti sesungguhnya dari setitik harapan. Ia mungkin bermula dari sebuah desa di pesisir Minahasa Utara, tetapi cahayanya dapat menjangkau desa-desa lain yang selama ini dianggap jauh dari pusat kemajuan.
Sebab desa bukan halaman belakang pembangunan. Desa adalah tempat kehidupan dirawat, kebudayaan diwariskan, dan masa depan dirintis dari hal-hal yang kerap dianggap sederhana.
Selama masyarakat masih memiliki keberanian untuk bergotong royong, selama pemimpin bersedia membuka ruang bagi partisipasi, dan selama alam diperlakukan sebagai sumber kehidupan, harapan akan selalu menemukan jalan untuk tumbuh.
Karena desa bukan akhir dari perjalanan Indonesia menuju kemajuan. Desa adalah tempat masa depan itu berakar, tumbuh, dan menemukan maknanya.
Catatan perjalanan: AhmadRabo Lutfianona, Budo, Minahasa Utara, Oktober 2022. Naskah dikembangkan dan disunting di Desa Toniku, Halmahera Barat, Maluku Utara, Oktober 2026. (*)





Tinggalkan Balasan